Yang Masi Menjadi Misteri
Posted by Ihsan Pratama , Sunday, January 7, 2018 9:52:00 PM
Awalnya kenal, terus sering
ketemu dan komunikasi, lihat kepribadiannya jadi kagum. Karena kagum akhirnya penasaran dengan dia yang sebenarnya.
Cari tahu tentang dia, komunikasi jadi semakin sering. sering bercanda bareng, tertawa bareng,
mengerjakan sesuatu bareng, cerita hal hal yang tak penting juga seperti, kapan
kenal, kok bsa kenal dan sebagainya. Akhirnya suka aja liat tingkah dia yang kadang konyol tapi kalau serius
sangat membantu pekerjaan, rajin bersih-bersih, tiap saat nyapu lantai,
kalaulah lantai itu bisa bicara, ada jiwa keibuan, peduli dengan sesama, hormat
sama mama papanya. Suka itu wajar dan normal. Kalau gak suka sma orang gak
mungkin bisa dekat. Krna itu lah ya masi biasa biasa aja, santai, aman dan
terkendali.
Karena udah kenal, kagum, dan suka liat sikap dia.
Akhirnya ada sedikit kepedulian
(care) yang muncul untuk dia, kepedulian sesama umat yang di rasa itu masi
normal dan wajar. Ketika hujan, di kasi jeket biarlah diri ini yang basah
asalkan dia tidak, karena diri ini laki dan dirinya wanita. Karna sudah
kodratnya juga laki itu melindungi wanita, apalagi wanita yang ada di dekatnya
dengan artian wanita yang dekat dengan dia. Kalau dia ada kesulitan dalam mengerjakan
sesuatu, biarlah diri ini meninggalkan hal lain demi membantu dia. Lah kok mau repot-repot bantu dia? Ya krna diri ini
peduli sama dia. Dan begitu lah, semuanya terus berlanjut...
Semakin sering chat juga, sampai terlihat di hp nya kalau diri ini menjadi
yang paling sering chat dia. Diri ini menjadi kontak yang frequently contacted yang berada paling atas. Juga jadi sering tertawa
bareng bahkan hal hal yang tak penting sekalipun, sindir sindiran dengan sense
of humor, di dunia nyata dan dunia maya sama hangatnya hingga sampai pada saat
saling mengingatkan akan hal2 konyol yang rasanya tak perlu di ingatkan tapi
dengan sense of humor yang gak bikin boring, pokoknya sesuai lah. Dan disitulah
rasa nyaman itu datang, nyaman ngobrol
sama dia, nyaman tertawa bareng dia, nyaman kerja bareng dia, nyaman ada di
sampingnya, dan nyaman ketika melihatnya, pokoknya nyaman aja semua tentang dia.
Nah setelah sejauh itu hingga sampai pada rasa nyaman, diri ini mulai tak
tenang, mulai tak nyaman dengan diri sendiri, dan mulai bertanya-tanya. Apakah hanya diri ini yang merasa nyaman?? Apakah hanya diri ini yang peduli? Apakah hanya diri ini yang selalu ingin dekat dengannya? Diri
ini mulai tak nyaman, tak nyaman ketika jauh drinya dan akhirnya sering
teringat tentang dia. Bahkan semenit pun otak ini tak mampu menonaktifkan nama
dia dari otak ini, bahkan ketika sujudpun otak ini masi tak sanggup untuk
menghapusnya. Otak ini mulai mengirim sinyal ke diri ini kalau diri ini harus
berada dekat dengan dirinya krna diri ini merasa bahagia berada dekat dengan
dirinya. Karena saat ini dirinya menjadi donatur kebagaian terbanyak untk diri
ini. Terima kasih Tuhan telah mempertemukan diri ini dengan dirinya.
Otak ini mulai bertanya-tanya tentang bagaimana kelanjutan dari kenal >
kagum > suka > peduli > nyaman > ???
Apa lagi yang akan terjadi setelah nyaman ini??
Disini lah dilema itu muncul, otak dan diri ini tak mampu untuk memecahkan teka
teki selanjutnya. Banyak hal yang di pertimbangkan oleh otak ini yang tak
disetujui diri ini.
Hari demi hari terus berlanjut, diri ini mencoba untuk menstabilkan arus
yang menggoncang jiwa namun arus itu agak nya terlalu kuat sehingga mulai tak
bisa terkendali. Setiap hari selalu teringat dirinya, rasa yang awalnya tak ada
sekarang mulai berlubang, dalam dan semakin dalam yang membuat diri ini
terjebak di antara dinding-dinding lobang yang di penuhi bayang bayang dirinya.
Diri ini takut jika dibiarkan terus-menerus, rasa ini akan menajadi semakin dalam, dalam, dan dalam hingga terkubur oleh kekecewaan yang pahit krna ternyata rasa yang semakin dalam ini hanya bertepuk sebelah tangan.
Diri ini masi mempertimbangkan semua resiko yang mungkin akan terjadi.
Diri ini masi mempertimbangkan semua resiko yang mungkin akan terjadi.
