Seperti biasa kuliah adalah hari-hari yang membosankan dan melelahkan bagi
sebahagian mahasiswa. Dimana ada kata kuliah disana ada tugas, dan disana juga
ada sebuah tanggung jawab. Suatu ketika di pagi yang cerah seorang mahasiswa
melangkankan kaki nya menuju tempat dimana dia akan menghabiskan harinya. Dia
adalah Ujang, mahasiswa tahun 1 yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu
istimewa. Namun Ujang mendapat sebuah keberuntungan ketika pertama kali kuliah,
yaitu dia dipercaya untuk memimpin di kelas. Menjadi ketua kelas adalah sebuah
tanggung jawab yang besar bagi Ujang, namun
Ujang telah berjanji pada dirinya
untuk melakukan yang terbaik. Setiap informasi yang didapatkan nya selalu dia
bagikan kepada teman-temannya, setiap kali ada masalah tentang jadwal kuliah,
Ujang selalu mengusahakan yang terbaik untuk kelas yang dia pimpin.
Hari itu Ujang sangat bahagia seakan tidak ada beban yang dia pikul.
Namun semuanya itu berubah ketika ujang menyadari bahwa ada satu hal yang dia
lupakan, yaitu satu mata kuliah yang dosen nya hanya masuk satu kali
pertemuan, dan tertinggal sebanyak Sepuluh kali pertemuan. Sejenak Ujang
merenungkan hal itu, dan segera melaporkan ke jurusan.
Dengan gagahnya Ujang menuju kantor jurusan dengan membaya sebuah map
berwarna merah yang berisi tentang catatan kehadiran dosen yang mengajar di
kelasnya. Namun setelah sampai di Kantor jurusan, Ujung tidak menemukan orang
yang dia cari. Maka Ujang harus menunggu di luar. Tapi lama kelamaan Ujang
menjadi tak sabar dan merasa jenuh untuk menunggu, dan kembali ke kantor itu
lagi. Ujang melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada seorang karyawan dan
Dosen yang sekaligus ketua jurusan yang terkenal angker dan mematikan, sebut
saja Buk Ning. Ujang memberanikan dirinya untuk memasuki ruangan itu dan
bertanya kepada karyawan tersebut, bukan kepada Buk Ning.
"maaf buk, saya mau nanya, sekarang kan udah minggu ke sebelas dan
Bapak ini cuma baru masuk sekali"
belum selesai Ujang melontarkan pertanyaan nya, Buk Ning pun mulai beraksi,
"anda kelas berapa?"
dengan pahamnya Ujang menjawab,
"saya kelas K2 Buk"
"ada masalah apa?"
Ujang menjelaskan semua keluhannya kepada Buk Ning, dengan berharap Buk Ning
akan memberikan solusi atas apa yang dia keluhkan. Tapi semua jauh dari yang
Ujang harapkan, Buk Ning memarahi Ujang dengan ganasnya.
"anda ketua? kenapa anda baru melapor!! anda tidak bisa
menyalahkan dosen, anda tau dua kali saja dosen tidak masuk anda harus
melapor!!!."
Ujang hanya dapat menikmati setiap kata-kata mutiara yang di lontarkan Buk Ning, dan
menjawab dengan pelan dan pasti.
"Ia buk, saya tau mungkin saya saya salah, saya khilaf. Jadi bagaimana
solusinya buk? apa yang harus saya lakukan?"
berharaap mendapat titik terang tapi malah sebaliknya, semuanya menjadi
semakin gelap.
"bukan mungkin, tapi memang anda yang salah. anda tau kalau udah
seperti ini anda gagal satu kelas, dan anda harus mengulang lagi tahun depan!!!
dan sekarang anda sudah bisa keluar dari ruangan ini"
Setelah mendengar kata-kata gagal satu kelas itu, ujang menjadi sangat drop
dan tertekan.
Ujang keluar seperti seseorang yang baru saja kehilangan jiwanya, Ujang
merasa begitu lemas seakan setiap titik tulangnya telah dilumpuhkan dengan
sebuah virus yang mematikan. Ujang tidak sanggup membayangkan apa yang akan
terjadi jika satu kelas gagal karena kelalaiannya. Ujang merasa bahwa ini
adalah kegagalan paling besar yang pernah ia rasakan. Ujang selalu
bertanya-tanya dalam hatinya "apakah aku telah gagal?"
"apakah aku ini tidak berguna?"
"dan apakah ini akhir dari semuanya?"
Ujang tidak tahu lagi harus melakukan apa, dan harus bercerita pada siapa,
semuanya terasa begitu berat. Bahkan dia tidak sanggup tersenyum menghadapi
orang-orang yang menghampirinya.
Sesaat setelah itu, suara azan pun menggema
menandakan waktu sholat telah datang.
Ujang pun pergi menuju Masjid tempat
biasa dia sholat. Ujang begitu khusyuk dan berdoa kepada Tuhan agar semuanya
berjalan dengan baik.
Setelah sholat, Ujang merasa sedikit tenang, namun masi bertanya-tanya
tentang kepastian dari masalahnya. Ujang kembali ke Kantor Jurusan untuk
mencari orang yang lebih tepat untuk bertanya. Tapi usahanya untuk saat ini
gagal, karena tidak adda satupun dosen yang dia lihat. Ujang tidak berputus asa
karena Ujang yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ujang menunggu di depan
Kantor Jurusan tersebut dengan seorang teman wanitanya.
Tidak lama setelah itu Ujang mendapatkan hasil dari penantiannya yaitu dia
melihat seorang dosen menuju kantor
yang
dia yakini akan mampu memecahkan masalahnya itu, sebut saja Buk Susi.
Sebenarnya buk Susi tidak jauh beda dengan buk Ning yaitu sama-sama angker,
tetapi banyak yang bilang kalau buk Sushi lebih sedikit bersahabat.
Perlahan Ujang menyiapkan mental untuk menghadapi cerita selanjutnya yang
tidak ia ketahui.
Dengan rasa gemetar yang menguncang dirinya, Ujang melangkahkan kakinya
mengituti Buk Susi. Sampai pada destinasi akhir di meja buk Susi, Ujang
memberanikan dirinya untuk bertanya,
“Buk, dosen kami tidak masuk udah sepuluh kali pertemuan, jadi bagaimana
solusinya buk?”
Saat itu ujang seakan ingin menutup telinga karena tidak ingin mendengar hal
buruk yang di sampaikan buk susi. Namun ternyata diluar dugaan, Buk Susi
menjawab dengan senyuman.
“ya anda temui dosen nya dan minta penggantian jadwal yang kosong itu”
“jadi kami tidak gagal buk?
“kenapa anda gagal? Yang tidak masuk kan dosenya, bukan anda, jadi dosen nya
gagal”
Mendengar pernyataan seperti itu, saat itupun juga senyum ujang kembali
bersinar. Ujang merasa kembali hidup dan terlepas dari beben fikiran akan
kegagalan satu kelas.
Setelah kejadian itu Ujang menyadari bahwa itu bukanlah akhir dari
segalanya, tetapi adalah sebuah awal dari perjalanan yang panjang.
"It just the beginning and it`s not
the end"