It`s Not The End

Posted by Ihsan Pratama , Friday, November 1, 2013 6:47:00 AM

Seperti biasa kuliah adalah hari-hari yang membosankan dan melelahkan bagi sebahagian mahasiswa. Dimana ada kata kuliah disana ada tugas, dan disana juga ada sebuah tanggung jawab. Suatu ketika di pagi yang cerah seorang mahasiswa melangkankan kaki nya menuju tempat dimana dia akan menghabiskan harinya. Dia adalah Ujang, mahasiswa tahun 1 yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu istimewa. Namun Ujang mendapat sebuah keberuntungan ketika pertama kali kuliah, yaitu dia dipercaya untuk memimpin di kelas. Menjadi ketua kelas adalah sebuah tanggung jawab yang besar bagi Ujang, namun Ujang telah berjanji pada dirinya untuk melakukan yang terbaik. Setiap informasi yang didapatkan nya selalu dia bagikan kepada teman-temannya, setiap kali ada masalah tentang jadwal kuliah, Ujang selalu mengusahakan yang terbaik untuk kelas yang dia pimpin.

Hari itu Ujang sangat bahagia seakan tidak ada beban yang dia pikul.  Namun semuanya itu berubah ketika ujang menyadari bahwa ada satu hal yang dia lupakan, yaitu satu mata kuliah yang dosen nya hanya masuk satu kali pertemuan, dan tertinggal sebanyak Sepuluh kali pertemuan. Sejenak Ujang merenungkan hal itu, dan segera melaporkan ke jurusan.

Dengan gagahnya Ujang menuju kantor jurusan dengan membaya sebuah map berwarna merah yang berisi tentang catatan kehadiran dosen yang mengajar di kelasnya. Namun setelah sampai di Kantor jurusan, Ujung tidak menemukan orang yang dia cari. Maka Ujang harus menunggu di luar. Tapi lama kelamaan Ujang menjadi tak sabar dan merasa jenuh untuk menunggu, dan kembali ke kantor itu lagi. Ujang melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada seorang karyawan dan Dosen yang sekaligus ketua jurusan yang terkenal angker dan mematikan, sebut saja Buk Ning. Ujang memberanikan dirinya untuk memasuki ruangan itu dan bertanya kepada karyawan tersebut, bukan kepada Buk Ning.

      "maaf buk, saya mau nanya, sekarang kan udah minggu ke sebelas dan Bapak ini cuma baru       masuk sekali"

belum selesai Ujang melontarkan pertanyaan nya, Buk Ning pun mulai beraksi,

      "anda kelas berapa?"

dengan pahamnya Ujang menjawab,

           "saya kelas K2 Buk"

      "ada masalah apa?"

Ujang menjelaskan semua keluhannya kepada Buk Ning, dengan berharap Buk Ning akan memberikan solusi atas apa yang dia keluhkan. Tapi semua jauh dari yang Ujang harapkan, Buk Ning memarahi Ujang dengan ganasnya.

          "anda ketua? kenapa anda baru melapor!! anda tidak bisa menyalahkan dosen, anda tau dua kali saja dosen tidak masuk anda harus melapor!!!."

Ujang hanya dapat menikmati setiap kata-kata mutiara yang di lontarkan Buk Ning, dan menjawab dengan pelan dan pasti.

         "Ia buk, saya tau mungkin saya saya salah, saya khilaf. Jadi bagaimana solusinya buk? apa yang harus saya lakukan?"

berharaap mendapat titik terang tapi malah sebaliknya, semuanya menjadi semakin gelap.

          "bukan mungkin, tapi memang anda yang salah. anda tau kalau udah seperti ini anda gagal satu kelas, dan anda harus mengulang lagi tahun depan!!! dan sekarang anda sudah bisa keluar dari ruangan ini"

Setelah mendengar kata-kata gagal satu kelas itu, ujang menjadi sangat drop dan tertekan.
Ujang keluar seperti seseorang yang baru saja kehilangan jiwanya, Ujang merasa begitu lemas seakan setiap titik tulangnya telah dilumpuhkan dengan sebuah virus yang mematikan. Ujang tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika satu kelas gagal karena kelalaiannya. Ujang merasa bahwa ini adalah kegagalan paling besar yang pernah ia rasakan. Ujang selalu bertanya-tanya dalam hatinya "apakah aku telah gagal?"

"apakah aku ini tidak berguna?"

"dan  apakah ini akhir dari semuanya?"

Ujang tidak tahu lagi harus melakukan apa, dan harus bercerita pada siapa, semuanya terasa begitu berat. Bahkan dia tidak sanggup tersenyum menghadapi orang-orang yang menghampirinya.
Sesaat setelah itu, suara azan pun menggema menandakan waktu sholat telah datang.
Ujang pun pergi menuju Masjid tempat biasa dia sholat. Ujang begitu khusyuk dan berdoa kepada Tuhan agar semuanya berjalan dengan baik.

Setelah sholat, Ujang merasa sedikit tenang, namun masi bertanya-tanya tentang kepastian dari masalahnya. Ujang kembali ke Kantor Jurusan untuk mencari orang yang lebih tepat untuk bertanya. Tapi usahanya untuk saat ini gagal, karena tidak adda satupun dosen yang dia lihat. Ujang tidak berputus asa karena Ujang yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ujang menunggu di depan Kantor Jurusan tersebut dengan seorang teman wanitanya.

Tidak lama setelah itu Ujang mendapatkan hasil dari penantiannya yaitu dia melihat seorang dosen menuju kantor  yang dia yakini akan mampu memecahkan masalahnya itu, sebut saja Buk Susi. Sebenarnya buk Susi tidak jauh beda dengan buk Ning yaitu sama-sama angker, tetapi banyak yang bilang kalau buk Sushi lebih sedikit bersahabat.

Perlahan Ujang menyiapkan mental untuk menghadapi cerita selanjutnya yang tidak ia ketahui.
Dengan rasa gemetar yang menguncang dirinya, Ujang melangkahkan kakinya mengituti Buk Susi. Sampai pada destinasi akhir di meja buk Susi, Ujang memberanikan dirinya untuk bertanya,

        “Buk, dosen kami tidak masuk udah sepuluh kali pertemuan, jadi bagaimana solusinya buk?”

Saat itu ujang seakan ingin menutup telinga karena tidak ingin mendengar hal buruk yang di sampaikan buk susi. Namun ternyata diluar dugaan, Buk Susi menjawab dengan senyuman.

        “ya anda temui dosen nya dan minta penggantian jadwal yang kosong itu”

“jadi kami tidak gagal buk?

        “kenapa anda gagal? Yang tidak masuk kan dosenya, bukan anda, jadi dosen nya gagal”

Mendengar pernyataan seperti itu, saat itupun juga senyum ujang kembali bersinar. Ujang merasa kembali hidup dan terlepas dari beben fikiran akan kegagalan satu kelas.
Setelah kejadian itu Ujang menyadari bahwa itu bukanlah akhir dari segalanya, tetapi adalah sebuah awal dari perjalanan yang panjang.
"It just the beginning and it`s not the end"



0 Response to "It`s Not The End"

Post a Comment

Pages

Powered by Blogger.